Feeds:
Posts
Comments

Potensi Sungai Wain

floraPotensi Alam dan Fungsi Ekosistem

  • Potensi Flora

Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) memiliki beberapa tipe hutan yang terdiri dari rawa-rawa terbuka, hutan rawa air tawar, hutan sungai (riverine), hutan Dipterocarpa dataran rendah yang lembab serta hutan Dipterocarpa perbukitan kering yang secara keseluruhan mempunyai spesies pohon dengan karakteristik berbeda untuk masing-masing tipe. Suatu perubahan kelembaban yang curam (drastis) dari Selatan ke Utara dari hutan cadangan , yang diselingi dengan lembah dan sungai, menambah keragaman spesies pohon yang tinggi, yang menduduki peringkat tertinggi di Asia Tenggara. Tipe vegetasi yang berbeda memberikan beberapa kemungkinan bagi hewan-hewan untuk berpindah dan menghindari kelangkaan makanan pada waktu musim kering.

Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) merupakan sebuah contoh unik dan khas atas tipe hutan Dipterocarpa dataran rendah, yang dulunya menutupi hampir seluruh wilayah antar Balikpapan – Samarinda. Jenis pohon kanopi dominan di hutan tersebut antara lain Bangkirai (Shorea Laevis), Ulin (Eusideroxylon Zwageri) dan Gaharu (Aquilaria Malaccensis). Selain dari jenis pohon kanopi tersebut, hutan lindung ini juga mempunyai keragaman jenis yang tinggi untuk jenis-jenis epifit anggrek, pakis dan tumbuhan merambat lainnya.

  • Potensi Fauna

Pada umumnya hampir sebagian besar hewan dari jenis mamalia yang hidup di Kalimantan masih dapat dijumpai di Hutan Lindung Sungai wain (HLSW). Fauna-fauna yang ada tersebut sebagian besar termasuk jenis yang langka dan terancam punah seperti Macan Dahan (Neofelis Nebulosa), Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Lutung Merah (Presbytis Rubicunda), Lutung Dahi Putih (Nycticebus Coucang), Uwa-uwa (Hylobates Muelleri), Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), Beruk (Macaca Nemestrina) serta satwa endemik Kalimantan yaitu Bekantan (Nasalis Larvatus).

beruangSedangkan jenis mamalia lainnya antara lain Kucing Hutan (Felis Bengalensis) beberapa jenis Landak seperti Landak Raya (Hystrik Brachyura), Landak Ekor Panjang (Trichys Fasciculata), sekelompok Tupai Tanah dan Tupai Terbang seperti Tupai Tiga warna (Callosiurus Prevostii), Tupai Tanah Bergaris Empat (Lariscus Hosie), Tupai Kerdil Dataran Rendah (Exilisciurus Exilis), Tupai Kerdil Telinga Hitam (Nannosciurus Melanotis) dan Tupai Terbang Raksasa Merah (Petaurista Petaurista). Beberapa jenis Musang seperti Musang Belang (Hemigalus derbyanus), Musang akar (Arctrogalidia Trivirgata), Luwak Macan (Viverra Tangalungga), Linsang (Prionodon Linsang), Binturong (Arctictis Binturong) serta Berang-berang (Lutra Spp) dapat ditemukan di semua sungai.

Selain satwa dari jenis mamalia, di Kawasan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) juga terdapat berbagai jenis burung. Sebagian merupakan jenis endemik yang langka seperi burung Tiong Batu Kalimantan atau Bristlehead (Pytriasis Gymnocephala), Pegar langka, Pelatuk dan Burung Enggang. Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) juga digunakan oleh beberapa jenis burung langka pada rute perpindahan mereka, atau sebagai batu loncatan untuk jenis nomadic (berpindah- pindah) seperti Burung Enggang Raja (Rhinoplax Vigil).

Sedangkan untuk keragaman jenis Reptil dan Amphibi belum diteliti, tetapi Penyu Tanah dan Penyu Air Tawar (Trionyx Sp.) sering tampak. Binatang reptil lainnya adalah jenis Ular seperti Phyton Reticulans, Gonyosoma Oxycephala, Dendrelaphis Formosus, Macropisthodon Rhodomelelas, Ophiopphagus Hannah serta jenis Katak (rana Spp.).

  • Potensi Hydrologi

Berdasarkan pada fungsi dan manfaatnya, kawasan hutan lindung adalah suatu kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun dibawahnya sebagai pengatur tata air, pencegah erosi serta memelihara kesuburan tanah. Sifat khas yang terkandung di dalam kawasan hutan lindung mencakup beberapa aspek antara lain sebagai kawasan resapan air dimana kawasan hutan lindung mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan yang akan mengisi air bumi yang berguna sebagai sumber air, mempunyai manfaat untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air, mampu mempertahankan kelestarian fungsi mata air, mampu mempertahankan kelestarian fungsi danau atau waduk, serta mampu mempertahankan kelestarian fungsi sungai.waduk-global

Fungsi daerah tangkapan air tersebut sejak dahulu telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan para penduduk yang berada di sekitar hutan, bahkan sejak 54 Tahun yang lalu telah digunakan sebagai tempat pengolahan dan persediaan air yang digunakan untuk suplay industri minyak di Kota Balikpapan dengan cara membuat penampungan berbagai anak sungai antara lain dari Sungai Bugis, dan anak sungai yang sumbernya di Km. 24 sekitarnya.

“Waduk Sungai Wain” tersebut didirikan / dibuat oleh Perusahaan Minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) pada tahun 1947 dengan luas 0,7 hektar. Pada Tahun 1969, pengoperasian waduk tersebut dilakukan oleh Perusahaan Minyak Shell dan sejak Tahun 1972 hingga saat ini pengoperasiannya dilakukan oleh PERTAMINA. Letak areal Waduk Sungai Wain berbatasan dengan Kawasan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW), dengan luasan areal lokasi sebesar 3,1 hektar. Selain waduk, di areal tersebut terdapat Instalasi pompa air baku dimana air yang ditampung didalam waduk untuk selanjutnya di alirkan melalui pipa-pipa menuju Kota Balikpapan tempat kilang minyak berada.

instalasi-pertaminaBerdasarkan data yang diperoleh dari PERTAMINA, air waduk yang dimanfaatkan perusahaan tersebut setiap harinya sebesar ± 15.000 m3 dengan rincian sekitar 85% digunakan untuk proses produksi (pembangkit tenaga penggerak/listrik, air industri dan cooling water) sedangkan sebagian lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (komplek perumahan karyawan PERTAMINA). Menurut hasil dari pada analisis data yang dilakukan oleh PERTAMINA, rata-rata perusahaan tersebut menggunakan air sebanyak 450 – 750 m3 /jam atau ± 25% dari jumlah volume air tawar yang biasa digunakan oleh seluruh rumah tangga di Balikpapan.

Pemanfaatan air dari Waduk Sungai Wain tersebut didasarkan pada surat izin pengambilan air yang dikeluarkan Kepala Dinas Pertambangan Propinsi Kalimantan Timur No. 546.2/33/Sub-II/Distamb, tanggal 14 Nopember 2000, tentang Pengambilan Air yang Bersumber dari Air Permukaan. Dalam surat tersebut PERTAMINA diberikan izin pemanfaatan air baku dari Waduk Sungai Wain sebanyak 83 liter/detik dengan lama pemompaan 8 jam/hari dan jika perusahaan tidak memerlukan air, maka pengambilan air harus dihentikan.

Hingga saat ini kilang-kilang minyak PERTAMINA UP V Balikpapan yang menghasilkan produksi minyak total nasional, sebagian besar suplay airnya masih tergantung pada air baku yang berasal dari Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Hal tersebut menunjukan sebuah kepentingan ekonomi besar dari sebuah suplai air yang tidak pernah terhenti dari kawasan tangkapan air Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW).

  • Potensi Fungsi Ekosistem

Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) sebagai suatu kawasan hutan hujan tropis yang masih tersisa memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Berbagai manfaat yang diberikan oleh Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) secara umum dirasakan oleh banyak pihak, secara khusus oleh mereka yang tinggal di sekitar kawasan hutan tersebut serta masyarakat Kota Balikpapan. Umumnya manfaat yang diberikan oleh kawasan ini sangat besar artinya dan dapat langsung dirasakan, seperti misalnya sumber daya air. Selain manfaat yang langsung terasa, manfaat yang tidak terihat langsung adalah berupa jasa ekosistem ataupun jasa lainnya dari kawasan ini seringkali terlupakan, bahkan tidak dicerminkan dalam bentuk timbal balik yang memadai. Fungsi ekosistem dari pada Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dapat disebutkan sebagai berikut :

  1. Pengatur komposisi kimia pada atsmofir misalnya ; Keseimbangan CO2/O2, O3 untuk perlindungan sinar ultra violet dan tingkat SOx.
  2. Pengatur temperatur setempat, preciptation, dan proses iklim lainnya yang bermedia biologis misalnya ; Pengatur gas rumah kaca, memproduksi DMS yang berakibat pada pembentukan awan.
  3. Capacitance, pengatur kelembaban dan respon ekosistem terhadap perubahan lingkungan misalnya ; Perlindungan terhadap angin, banjir, pemulihan setelah musim kering dan aspek lain dari reaksi habitat terhadap perubahan lingkungan yang diatur oleh struktur vegetasi.
  4. Pengatur aliran hidrologi misalnya ; Penyediaan air untuk pertanian (irigasi) industri atau transportasi.
  5. Penyimpanan dan cadangan air misalnya ; Penyediaan air dalam DAS, waduk dan air tanah.
  6. Penangkap sedimentasi dalam ekosistem misalnya ; Menjaga kehilangan lapisan tanah karena angin, aliran air, atau proses lainnya.
  7. Proses pembentukan lapisan tanah misalnya ; Membantu proses pembentukan tanah melalui pelapukan karena perubahan cuaca dan akumulasi bahan organik.
  8. Penyimpanan, siklus internal, proses dan pembentukan nutrien misalnya ; Pembentukan Nitrogen, N, P dan elemen lain dari siklus nutrien.
  9. Proses pembusukan nutrien dan sisa proses metabolisme pada ekosistem misalnya ; Pengolah limbah, pengontrol bahan pencemar, penyebab racun.
  10. Pemindahan gamates tanaman misalnya ; Menyediakan pollinators sebagai media reproduksi populasi tanaman.
  11. Pengontrol populasi di wilayah tropis yang dinamis misalnya ; Pengontrol bagi spesies predator, pengontrol hewan herbivor oleh predator.
  12. Penyedia habitat untuk populasi hewan menetap dan transit misalnya ;Sebagai daerah pemeliharaan, habitat bagi spesies bermigrasi, habitat untuk spesies lokal.
  13. Bagian yang digunakan sebagai gross produksi ekstraksi pangan misalnya ; Penyedia pangan seperti ikan, hewan buruan dan lainnya.
  14. Bagian yang digunakan sebagai gross produksi ekstraksi bahan baku misalnya ; Produksi bahan bakar biomass dan hasil hutan non kayu lainnya.
  15. Sumber dari materi dari produk biologis yang unik misalnya ; Bahan obat-obatan, materi untuk ilmu pengetahuan, genes untuk ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, tanaman hias.
  16. Tempat untuk kegiatan wisata misalnya ; Ekowisata dan kegiatan rekreasi luar ruangan.
  17. Menyediakan kesempatan untuk pemanfaatan non komersil misalnya ; Pendidikan, penelitian, adat istiadat spiritual dan keindahan dari ekosistem.

Manfaat dari keberadaan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) kita adalah seluruh masyarakat Kalimantan Timur dan khususnya warga masyarakat Balikpapan, bahkan juga masyarakat secara Nasional dan Internasional ikut menikmati manfaat yang diberikan oleh keberadaan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), akan tetapi masih sedikit perhatian dan penghargaan yang diberikan masyarakat pada manfaat keberadaan, kelangsungan dan kelestarian kawasan itu sendiri.

  • Potensi Penelitian, Pendidikan dan Rekreasi

Selain alasan-alasan lingkungan ekonomi, banyak alasan sosial dan moral untuk mengkonservasi suatu kawasan lindung. Suatu kawasan yang dilindungi dapat meningkatkan mutu dan kualitas kehidupan manusia melalui kesempatan rekreasi, pendidikan dan penelitian serta pariwisata yang secara moral dan sosial. Berdasarkan pada keragaman potensi yang sudah dijelaskan diatas. Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mempunyai potensi bagi pengembangan penelitian, pendidikan dan rekreasi.

a. Penelitian Ilmiah

Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) merupakan tempat yang sangat baik untuk melaksanakan penelitian ilmiah tentang flora, fauna, bentang alam (landscape) serta manajemen konservasi. Kegiatan penelitian ilmiah tersebut dapat diuji, diperbaiki dan dampak-dampak dari kegiatan ini dapat dimonitor untuk mengevaluasi keefektifannya. Beberapa kegiatan penelitian ilmiah yang telah dilakukan telah manunjukan bahwa untuk membantu upaya pemanfaatan, pengelolaan dan pelestarian kawasan hutan hujan tropis (Tropical Rain Forest) secara bijaksana akan memberikan suatu manfaat dan dukungan bagi pengelolaan masa datang. Penelitian ilmiah tentang keanekaragaman jenis di Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) mampu melindungi struktur, fungsi dan keanekaragaman sistem dunia yang merupakan tumpuan spesies kita.

Proyek Reintroduksi Orangutan Wanariset yang mengembangkan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) sebagai tempat peliaran kembali satwa liar yang terancam punah. Sejak tahun 1992 Proyek Reintroduksi Orangutan Wanariset telah melepas liarkan lebih dari 80 ekor Orangutan (PongoPygmaeus). Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dianggap menjadi kawasan yang cocok untuk merehabilitasi Orangutan yang disita, karena tidak ada populasi Orangutan liar di kawasan ini. Orangutan-orangutan itu telah dilepas liarkan dalam enam kelompok sepanjang periode 4 tahun. Pada tahun 1998 Orangutan yang dilepas liarkan telah melahirkan, hal ini menunjukkan adanya adaptasi yang baik antara spesies dan habitatnya.

b. Pendidikan Lingkungan

Suatu etika pada saling menghargai dan saling memelihara merupakan landasan bagi kehidupan yang berkelanjutan. Ini berarti bahwa biaya dan manfaat dari pemakaian sumber daya pembangunan dan perlindungan lingkungan harus dibagi merata dikalangan masyarakat dan Bangsa-bangsa; diantara generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Untuk menerapkan etika bagi kelangsungan hidup, orang harus mengkaji ulang nilai-nilai dan mengubah perilaku mereka serta meningkatkan kapasitas dan kualitas masyarakat untuk dapat menghargai betapa bermanfaatnya agen, spesies dan ekosistem alam.

Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) yang mempunyai keunikan khas akan potensi sebuah kawasan hutan tropis basah mampu menyediakan sarana untuk dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas masyarakat melalui pendidikan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup tersebut pada prinsipnya adalah untuk membangun suatu mekanisme pendidikan dan peningkatan kesadartahuan masyarakat luas (berbagai lapisan masyarakat) tentang keberadaan dan manfaat Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), sehingga akan terbangun suatu trend “Cinta Hutan Lindung Sungai Wain”. Pembangunan kapasitas oleh pelaku konservasi diharapkan bisa memberikan efek yang berantai, sehingga secara strategi kegiatan ini akan meningkatan kuantitas dan kualitas masyarakat yang peduli terhadap Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), terjadi transfer pengetahuan dan kepedulian, adanya pemantauan atau monitoring yang dilakukan masyarakat terhadap Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW).

c. Wisata Alam

Tingkat kebutuhan masyarakat Balikpapan akan wisata atau rekreasi sangatlah tinggi. Dengan sarana rekreasi yang sangat minim di Wilayah Kalimantan Timur umumnya, kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dapat menjadi tempat alternatif rekreasi dengan pola “Wisata Alam Terbuka”. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati, tipe habitat yang beragam, keberadaan spesies endemik (khas/asli) Kalimantan, posisi yang strategis sepanjang Teluk Balikpapan dan masih berada di sekitar Kota yang mempunyai Bandara Internasional, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dapat menjadi lokasi yang ideal untuk wisata pendidikan alam.

Sektor Pariwisaata dari Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) akan menjadi potensi yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi Pemerintah Daerah umumnya dan masyarakat sekitar pada khususnya. Dengan pengembangan dan pengelolaan “Wisata Terbatas” yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan kawasan, kegiatan wisata tersebut diharapkan tidak akan mengganggu dan merubah fungsi dari pada keberadaan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) itu sendiri (seperti fungsi tangkapan air, penelitian, pendidikan dan pelestarian keanekaragaman genetik dan spesies).

Sosial Ekonomi

Selain memiliki potensi alam, Kawasan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) memiliki potensi lain yaitu potensi sosial ekonomi masyarakat, dimana disekitar kawasan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) terdapat pemukiman penduduk dengan berbagai aktifitas. Berdasarkan pada data analisis sosial ekonomi masyarakat yang dilaksanakan oleh Wanariset Samboja tahun 1999 penduduk yang tinggal di dalam dan sekitar Hutan Lindung Sungai wain (HLSW), komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada masing-masing lokasi disekitar Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) tersebut terlihat, bahwa 56.79% penduduk tinggal dan menetap di dalam kawasan sedangkan 43.20% penduduk tinggal dan menetap disekitar kawasan. Dan jka ditinjau dari jumlah Kepala Keluarga yang ada, keragaman etnis Suku Bangsa penduduk yang tinggal dan menetap pada masing-masing lokasi adalah 35.5% KK berasal dari etnis Bugis, 24.5% Jawa, 9.43% Buton, 11.7% Banjar, 5.28% Toraja dan lainnya berasal dari Suku Madura, Sunda, Timor, Bali, Manado, Batak dan Cina. Sedangkan jika ditinjau dari mata pencaharian, umumnya penduduk desa mempunyai mata pencaharian utama pada sector pertanian, berladang dan berternak. Hal tersebut berjalan semenjak mereka pertama kali datang dan menetap di sekitar kawasan hutan lindung. Seiring dengan perkembangan disekitarnya dimana dengan semakin banyaknya pendatang yang juga tinggal dan menetap, maka pola kehidupan penduduk mengalami perubahan kebidang usaha lain seperti berdagang, buruh dan lainnya.

Sejarah Sungai Wain

Sejarah Pepeta-sungai-wain1ngelolaan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW)

Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) secara Administratif Pemerintahan terletak di Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara dan Kelurahan Kariangau Kecamatan Balikpapan Barat Kota Balikpapan Propinsi Kalimantan Timur. Secara geografis terletak antara   116047′ – 116055′ Bujur Timur dan 01002′ – 01010′ Lintang selatan. Jarak tempuh dari Pusat Kota hanya 15 km melintas jalan raya Balikpapan-Samarinda.

Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) pada mulanya dikenal sebagai “Hutan Tutupan” yang ditetapkan oleh Sultan Kutai pada Tahun 1934 dengan Surat Keputusan Pemerintah Kerajaan Kutai No. 48/23-ZB-1934 sebagai Hutan Lindung. Berdasarkan pada Peta Kawasan Hutan Propinsi Kalimantan Timur, dengan luas ± 3.295 ha (Lampiran SK Menteri Pertanian No. 24/Kpts/Um/I/1983) merupakan bagian dari kelompok Hutan Lindung Balikpapan, sedangkan sisanya seluas ± 6.100 ha termasuk hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK).

Untuk selanjutnya mengingat keadaan hutan tersebut masih terawat dengan baik, berdasarkan Surat Gubernur Kepala Daerah Tk. I Kalimantan Timur No. 552.12/311/KLH-III/1988, diusulkan agar kelompok Hutan Sungai Wain seluas ± 6.100 ha tersebut ditunjuk sebagai Hutan Lindung. Hal tersebut dipertegas dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 118/Kpts-VII/1988 “Tentang Pembentukan Kelompok Hutan Lindung Sungai Wain seluas ± 6.100 ha yang terletak di Kota Balikpapan Propinsi Kalimantan Timur menjadi Hutan Lindung”. Maka dengan masuknya Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), luas areal Kawasan secara keseluruhan menjadi 10.025 ha.

Pada Tahun 1993, Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kota Balikpapan mengusulkan perubahan batas Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), yaitu bagian kawasan yang telah dirambah dikeluarkan dari kawasan sepanjang 500 meter dari jalan raya Balikpapan – Samarinda sehingga luas kawasan tersebut menjadi 9.782,80 ha yang untuk selanjutnya usulan tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 416/Kpts-II/1995.

Berbagai kebijakan yang berlaku pada dasarnya memberikan kewenangan pengelolaan Hutan Lindung kepada Daerah, Undang-undang No. 22 Tahun 1999 maupun PP No. 25 Tahun 2000 menegaskan “Kewenangan Daerah atas Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung”. Pada Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Pasal 10 dapat disimpulkan, bahwa Daerah berwenang mengelola sumber daya Nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab untuk memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Hal tersebut dipertegas lagi dengan Keputusan Presiden RI No. 32/1990 tentang “Pengelolaan Kawasan Lindung” dapat disimpulkan, bahwa untuk pemahaman fungsi dan manfaat kawasan lindung perlu diupayakan kesadaran masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan kawasan lindung yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi yang mengumumkan kawasan-kawasan tertentu sebagai kawasan lindung. Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 25/2000 dapat disimpulkan pula bahwa untuk pengelolaan Kawasan Hutan Lindung yang terletak di Pemerintahan Kabupaten maupun Kota, Pemerintah Kabupaten atau Kota dapat dengan segera membuat Peraturan Daerah (PERDA) ataupun  untuk sementara dengan Surat Keputusan Kepala Daerah.

Dari beberapa uraian tentang aspek hukum pengelolaan suatu kawasan lindung terlihat, bahwa pada dasarnya pengelolaan hutan lindung berada di tangan Pemerintah Kota dan Kabupaten. Akan tetapi dalam kaitannya dengan otonomi, PP No. 25 Tahun 2000 tidak tercantum adanya kewenangan pengelolaan hutan lindung pada Pemerintah Propinsi, maka pengelolaan hutan lindung berada di tangan Pemerintah Kabupaten / Kota, akan tetapi kewenangan tersebut baru efektif apabila Pemerintah Propinsi, Kabupaten maupun Kota telah membuat landasan hukumnya.

Upaya pengelolaan dan penyelamatan kawasan tersebut diusahakan dengan melalui berbagai kebijaksanaan pengelolaan dan pengembangan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) yang didasarkan pada kebijakan pengelolaan kawasan lindung di Indonesia pada umumnya yaitu diarahkan untuk mencapai tujuan agar kawasan yang dimaksud mempunyai fungsi perlindungan terhadap system penyangga kehidupan, pengawetan keaneka ragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di dalam pelaksanaannya diupayakan agar kawasan lindung tersebut bebas dari segala gangguan dan permasalahan, dikelola dengan baik dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

deklarasi1

Komitmen yang dicetuskan bersama pada tanggal 15 Maret 2001 di Aula Kantor Walikota Balikpapan menghasilkan suatu kesepakatan bersama yaitu berupa “Deklarasi Penyelamatan Hutan Lindung Sungai Wain” dan rekomendasi untuk segera membentuk “Badan Pengelola” yang idenpenden yang selanjutnya secara teknis dan di rumuskan oleh suatu tim khusus dengan tetap melibatkan para pihak (stakeholders) dalam pengambilan keputusan.

Badan Pengelola (BP) yang telah dirancang bersama-sama tersebut mempunyai prinsip dasar sebagai berikut :

  • BP adalah perwujudan pengelolaan yang terintegrasi untuk Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dengan melibatkan semua pihak terkait (stakeholder).
  • Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) bersifat independent, mengelola anggaran sendiri yang bersumber dari APBD Balikpapan, Dana Internasional, sumbangan masyarakat, usaha sendiri yang tidak akan merusak kelestarian sumber daya alam serta ekosistem kawasan.
  • Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) untuk pertama kali dibentuk dengan Surat Keputusan Walikota Balikpapan.
  • Untuk selanjutnya agar Badan tersebut mempunyai kekuatan hukum pasti, dengan persetujuan DPRD dapat dibuatkan Peraturan Daerah (PERDA) yang akan mengatur tugas dan kewenangan dari pada Badan Pengelola itu sendiri.
  • Badan Pengelola bertanggung jawab kepada Walikota Balikpapan dengan cara membuat laporan berkala untuk semua pihak dan akan dilakukan audit secara terbuka.
  • Agar dapat diperoleh suatu hasil yang maksimal, Badan Pengelola Hutan Lindung Sungai wain (HLSW)membentuk “Unit Pelaksana Harian”.
  • Badan pengelola terdiri dari berbagai pihak mempunyai kepentingan langsung dengan Kawasan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) dan akan mempunyai fungsi utama memberikan arahan strategis maupun kebijakan pengelolaan kawasan.
  • Sedangkan secara teknis pengelolaan Hutan Lindung Sungai wain (HLSW) akan dikelola oleh “Pelaksana Harian (Badan Eksekutif)” yang dapat bekerja secara professional dengan harapan pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) akan tersusun dan terencana dengan maksimal sehingga fungsi dan manfaat kawasan hutan lindung tersebut dapat memberikan hasil yang optimal bagi sekitar, masyarakat Kota Balikpapan, serta dapat menjadi contoh bagi sebuah manajemen pengelolaan kawasan perlindungan alam di Kalimantan Timur khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Badan Pengelola yang dibentuk tersebut merupakan suatu bentuk kerjasama atau koordinasi agar pihak-pihak yang selama ini “secara sendiri-sendiri” telah melakukan kegiatan di Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dapat bahu membahu menyelamatkan kawasan tersebut dengan satu tujuan dapat tercapai hasil yang lebih maksimal. Berdasarkan pada hasil inventarisasi yang telah dilakukan terdapat banyak pihak baik dari Instansi Pemerintah maupun Lembaga, telah melakukan kegiatan yang berkenaan dengan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW). Instansi Pengelola dan Lembaga yang peduli dengan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) dapat dilihat peran dari pada Instansi Pemerintah, swasta dan lembaga lainnya di dalam upaya-upaya pengelolaan dan penyelamatan kawasan.

save our forest

tree01aSelamat datang di blog sungai wain… tidak banyak yang dapat kami informasikan untuk posting pertama ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.